Jth. Ibu Andjar Asmara (wakil J.M. Ibu Menteri Sosial). Jth. Ibu2 dari Pimpinan ‘Aisjijah, serta ibu2 dan saudara2 sekalian jang saja hormati. Assalamu’alaikum w.w.

Terlebih dahulu saja mengutjapkan terima kasih banjak kepada ibu2 jang telah memberi kesempatan kepada saja untuk dapat mengikuti Muktamar jang berbahagia ini. Dan kepada saja diberikan waktu untuk menguraikan sedikit tentang “Pendidikan Wanita”.

Sungguh saja merasa mendapat kehormatan atas kepertjajaan jang diberikan kepada saja untuk menguraikan hal jang sangat penting itu, dimana wanita memegang peranan jang penting sekali dalam nation dan character building. 

Ibu-ibu Jth. 

Masalah pendidikan adalah masalah jang sangat luas, mengenai seluruh aspek kehidupan manusia. Pengaruh pendidikan itu akan terlihat dalam tingkah laku, tutur basa, tjara hidup, tjara menghadapi semua persoalan dan kesukaran hidup. Pendidikan itu bukan sadja dari sekolah, tapi jang lebih besar pengaruhnja adalah pendidikan orang tua.

Karena pembentukan kepribadian seseorang telah mulai sedjak ia lahir, dan berlangsung terus sampai ia dewasa (achir adolescence). Kepribadian inilah jang menentukan tjara seorang bertindak dalam segala aspek kehidupannja.

Dalam pembentukan kepribadian sianak, besar sekali pengaruh didikan si ibu. Kalau ingin supaja sianak benar2 berkejakinan teguh kepada Tuhan, berdjiwa Manipolis dan Pantjasilais, haruslah ibunja lebih dulu memperlihatkan keimanan jang tebal kepada Tuhan, dan kejakinannja kepada Pantjasila itu.

Sebenarnja soal pendidikan wanita, bukanlah hal baru bagi ibu2 ‘Aisjijah, sedjak berdirinja ‘Aisjijah telah ber- ketjipung dalam bakti pendidikannja dan telah membuahkan wanita itu sangat luas, maka dalam uraian ini saja akan hasil2 jang tidak sedikit.

Karena itu dan karena pendidikan membatasi diri dan mentjoba memberikan dasar2 kesehatan mental (Mental Hygiene) kepada pendidikan tersebut atau pengaruh pendidikan pada kesehatan mental. 

Apa sebenarnja jang dimaksud dengan kesehatan mehtal itu? Dan bagaimana dapat kita ketahui bahwa kesehatan mental seseorang kurang sempurna ? Dalam masjarakat kita, biasanja orang malu kalau dikatakan bahwa mentalnja (djiwa) kurang sehat.

Karena kalau mendengar sakit djiwa itu, sering terbajang orang gila atau setengah gila. Tapi jg dimaksud dengan kesehatan mental, bukan itu sadja. Kesehatan mental jg terganggu dapat terlihat dalam berbagai gedjala atau symptom. Mungkin phisik. kelakuan, ketjerdasan dan perasaan.

  1. Kesehatan phisik atau badan bisa terganggu karena djiwa, umpamanja: sakit kepala atau pusing jang sering terasa, badan rasanja lemas dan tjape tak bersemangat, sering2 masuk angin, kadang2 orang merasa nafasnja sesak, pentjernaan tidak teratur, kalau anak2 barang- kali gagap, ngompol dsb. sakit2an.
  2.  Pengaruhnja kepada kelakuan, ump. suka mengganggu oraug2 lain, merusak atau mengambil barang orang, dusta, mentjuri, suka menjakiti orang lain dan segala matjam tindakan2 jg melanggar kesopanan dan agama, jang termasuk kepada gedjala kurang sehat.
  3.  Pengaruh kesehatan mental kepada ketjerdasan, umpama anak2 jang sebenarnja ketjakapan otakuja bagus, tapi kalau udjian angkanja buruk, ia suka pelupa, sering melamun dalam beladjar, tak naik kelas dan kadang2 suka bolos dari sekolah.
  4.  Dapat djuga gedjala2 mental itu terlihat pada perasaan, ump. hati gelisah sadja tak tentu penjelesaiannja, melihat orang akan lebih baik dari kita hati tak senang, mau mengedjek orang sadja, tak mempunjai rasa tang- gung djawab, merasa rendah diri, tak pertjaja kepada  diri sendiri, tidak puas akan apa sadja, tak dapat menjesuaikan diri.

Pendek kata ibu2 Jth. ketidak puasan, ketidak sanggu- pan mengintegrasikan diri dengan keadaan diri orang lain dan suasana, atau tidak dapat hidup bahagia, tidur tidak njenjak, makan tidak enak dst. adalah tanda kurang sehat.

Baca Juga: Safiah Hanem Zaghlul Pasha

Nah ibu2 Jth. Apa jg dapat kita lakukan supaja anak2 kita dapat dihindarkan dari kekurangan2 jang kita, sebutkan tadi, ba- gaimana matjam pendidikan jang harus didjalani supaja dapat anak2 kita mempuajai kepribadian jang kuat, pertjaja kepada Tuhan dan benar2 sehat mentalnja ?

  1. Kenalilah anak2 itu. Apa jang kita maksud dengan mengenal sianak, jaitu hendaklah diketahui keinginannja, kebutuhannja baik phisik maupun djiwa dan kebutuhan psychologis (djiwa) dan sosial. Umpamanja kebutuhan phisik, makanan. minuman, tidur dan pakaian. sedang ke- butuhan psychologie ia membutuhkan kasih sajang dari orang tua, membutuhkan supaja diperhatikan kepentingannja, membutuhkan kawan, ingin dihargai, harga dirinja harus djangan disinggung orang. Ingin tidak berbeda dari ka- wannja.
  2. Setelah keinginan2 dan kebutuhan2 sianak itu diketahui, terimalah anak itu, dan berikanlah kepadanja apa2 jang wadjar, tidak berlebih2an umpama sianak membutuhkan kasih sajang, sajangilah dia dalam batas2 jang tidak sampai kepada memandjakannja. Karena anak jang merasa tidak disajangi akan bentji kepada orang lain, mungkin ia djadi nakal, suka berkelai. Kasih sajang itu bukan uang, bukan benda, tapi adalah rasa hangat dan kasih. Berapa banjak anak jang nakal, men- tjuri atau mengganggu, itu bukan karena kekurangan, tapi malah ber-lebih2an dalam kebutuhannja. Ia mentjuri bukan ingin bendanja, tapi ingin menarik perhatian orang tuanja atau membalas tindakan orang tuanja, demikian seterusnja. 
  3. Dalam mendidik itu djanganlah suruhan2 dan larangan2 kepada jang tak baik itu berupa perintah ‘jang harus diikuti sadja oleh sianak. Tapi hendaklah berupa pengertian dan didikan setjara baik. 

Anak-anak jang telah masuk kepada umur muda atau adolescence jaitu dari kira2 umur 13-21 tahun. Anak2 jang berada dalam umur antara 13-21 inilah jang sering mengalami didikan jang tidak sesuai dengan kesehatan mental.

Orang tua ketika melihat badan anaknja telah melondjak besar terutama pertumbuhan jang tjepat itu dari umur 13-16 tahun, seolah-olah pertumbuhan badannja berlari dengan tjepat, lupa bahwa pada ketika itu ia sedang mengalami pertumbuhan jang sangat tjepat, kadang2 malah lupa bahwa anak itu belum berpengalaman, lalu diberi tanggung djawab diluar kesanggupannnja.

Karena sianak itu sedang tumbuh tjepat badannja, lalu umpamanja ia suka berdiri dimuka katja, mulai senang melihat kawannja dari djenis lain. Kalau orang tua mengedjek umpama berkata wah sebentar2 berdiri dimuka katja, apa itu. tak baik dsb. hal ini menimbulkan rasa pada sianak bahwa orang tuanja tak mengerti akan rasa hatinja, lalu menjebabkan ia tak senang. 

Jang penting ialah supaja mengerti tjiri-tjiri apa jang sedang dilalui oleh sianak, lalu dengan pengertian itu kita bertindak mendidik dan membentuk sianak sesuai dengan jang kita ingini dengan mengingat tjiri2 chas dari tiap umur. 

Dengan menghargai keinginannja, berarti kita mengakui rasa harga diri sianak itu, dengan demikian ia akan mempunjai kepertjaan kepada dirinja dan dapat memperkembang kan kepertjajaan kepada diri itu dan dapat pula merasa tanggung djawab dan berdiri diatas kaki sendiri. 

Kekurang pahaman orang tua akan sifat2 pertumbuhan djiwa jang dialami sianaklah jang sering menjebabkan timbulnja tindakan2 keras menghadapi kelakuan sianak jg oleh orang tua dianggap tidak menjenangkan atau tidak pantas. Dan larangan2 jang berupa perintah itu, kadang2 oleh si- anak dilanggar terang2an, atau ia beladjar berdjusta, maka ia patuh dihadapan orang tuanja, tapi sedikit sadja ia terpisah dari orang tuanja, ia se-olah2 lepas dari kungkungan dan melakukan jang diingininja.

 Ibu2 Jth. 

Demikianlah setjara ringkas dapat saja simpulkan bahwa sjarat minimal jang harus dilakukan oleh seorang ibu dalam mendidik anak, harus didasarkan atas pengertian jang dalam atas sianak sendiri dan kasih sajang.

Untuk dapat mengetahui sifat2 pertumbuhan anak2 pada umur2 tertentu itu, maka wanita jang masih duduk dibangku sekolah terutama saudara2 dari Nasjiatul ‘Aisjijah peladjarilah dan batjalah buku2 jang berhubungan dengan pendidikan dan ilmu djiwa. 

Bagi Ibu2 jang tidak lagi berketjipung dalam pendidikan peganglah dasar2 minimal jang tadi saja sebutkan, sambil berusaha pula menambah pengetahuan dalam pendidikan, entah dengan tjara tjeramah atau kursus. Ibu2 Jth. Kiranja tjukup sekian uraian saja, mudah-mudahan ada manfaatnja dan saja minta maaf atas kekurangan2 jang terdapat dalam uraian ini.

Wassalamu’alaikum w.w.

Bandung. 23 Djuli 1965.

Disadur dari buku 15 Tahoen Soeara ‘Aisjijah hlm 20

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: suara aisyiyahKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...