Sahalia

Makassar, Suara ‘Aisyiyah – Sehabis berjualan di bazar kegiatan ‘Aisyiyah, Sahalia tak langsung pulang ke rumah. Ia menyempatkan diri singgah ke Kantor Lazismu Makassar.

Di tangannya tergenggam sebuah kotak kayu sederhana, sudah usang termakan waktu, bertuliskan “Kotak Infaq Keluarga”. Bagi orang lain, kotak itu mungkin tampak biasa saja. Namun bagi Sahalia, benda itu menyimpan jejak keistikamahan yang telah ia rawat hampir satu dekade lamanya.

Sahalia bukan sosok asing di lingkungan ‘Aisyiyah Kota Makassar. Sebagai Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Bara-baraya, ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan dakwah.

Namun di balik kesibukannya berorganisasi, ada satu kebiasaan kecil yang konsisten ia jaga, menyisihkan sedekah subuh melalui Kotak Infaq Keluarga, lalu menyalurkannya secara rutin untuk program-program Lazismu Makassar. Kebiasaan ini telah berjalan kurang lebih sepuluh tahun.

Amil Lazismu Makassar duduk menghitung isi kotak dengan telaten. Satu per satu lembaran uang dikeluarkan, dipilah berdasarkan nominalnya.

“Ada 56 lembar pecahan Rp2.000, 27 lembar pecahan Rp1.000, dan 16 lembar pecahan Rp5.000, serta 1 lembar pecahan Rp50.000. Totalnya, infak bulan ini sejumlah Rp269.000,” ujar sang Amil sembari menuliskan angka-angka tersebut ke dalam kwitansi.

Nominal itu, menurut Amil Lazismu, kurang lebih menjadi rata-rata infak Sahalia setiap bulannya. Uniknya, cara penyalurannya pun tak selalu sama.

Kadang Amil Lazismu yang datang menjemput langsung ke kediaman Sahalia, kadang pula Sahalia sendiri yang menyempatkan diri berkunjung ke Kantor Lazismu Makassar, seperti yang terjadi hari itu, sepulang dari bazar.

Baca Juga: Zakat Produktif: Memberdayakan atau Sekadar Memberi Modal?

Sambil terus menghitung dan menyiapkan kuitansi, sang Amil melontarkan pertanyaan, bagaimana bisa konsisten berinfak setiap bulan, padahal isinya kebanyakan hanya uang pecahan kecil?

Sahalia menjawab, “Kebaikan sekecil apapun yang dilakukan secara konsisten, akan besar nilai pahalanya di sisi Allah. Semakin sering kita kuatkan niat untuk berbuat baik, maka Allah akan memberikan balasan yang lebih baik.”

Bagi Sahalia, nilai sebuah sedekah tidak diukur dari besar-kecilnya nominal, melainkan dari keteguhan niat dan keajekan dalam menjalankannya. Sebuah pandangan yang barangkali jarang disadari banyak orang, yang kerap menunda berbagi hanya karena merasa belum “cukup” untuk memberi.

Ditanya sejak kapan kebiasaan baik ini bermula, Sahalia menerawang sejenak sebelum menjawab, “Sudah sejak Almarhum Bapak, suami saya, masih ada, sekitar tahun 2016.”

Jawaban ini menyingkap sisi lain dari cerita bahwa Kotak Infaq Keluarga bukan sekadar rutinitas ibadah pribadi, melainkan juga warisan nilai yang dibangun bersama keluarga, sebuah kenangan yang terus dijaga dan dihidupkan meski sang suami telah tiada.

Menjelang akhir perbincangan, Amil Lazismu bertanya tentang harapan yang ingin dicapai Sahalia. Ia menjawab, “Semoga tetap sehat, selalu diberi rezeki oleh Allah, bangun subuh, melaksanakan kewajiban, dan menyalurkan infak.”

Namun ternyata, ada harapan lain yang tersimpan lebih dalam. Ketika Amil Lazismu bertanya lagi, “Selain itu, Ibu?”, Ibu Sahalia menjawab dengan mata berbinar, “Di setiap saya memasukkan infak di kotak infak ini, saya juga terus berdoa, semoga Allah memanggil saya untuk mengunjungi rumah-Nya di Baitullah.”

Kalimat inilah yang menjadi inti dari seluruh kisah, bahwa setiap lembar uang kecil yang dimasukkan ke dalam kotak kayu itu bukan sekadar materi, melainkan doa yang dititipkan, harapan yang terus dirawat di setiap waktu subuh.

Mendengar jawaban itu, Amil Lazismu turut mendoakan agar Sahalia dapat menggapai cita-cita mulianya. Kisah Sahalia mengajarkan satu hal penting bagi kita semua: bahwa keikhlasan tak pernah diukur dari besar nominal yang diberikan, melainkan dari keistiqomahan niat yang dijaga dari waktu ke waktu.

Sepuluh tahun, ratusan lembar uang pecahan kecil, dan satu doa yang tak pernah putus, itulah bukti nyata bahwa kebaikan sederhana, jika dilakukan terus-menerus, mampu menjelma menjadi jejak amal yang besar di sisi-Nya.

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: suara aisyiyahKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...