Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) memasuki tahapan baru dalam perjalanan pengembangan institusi melalui milestone ketiga yakni National Competitiveness yang dimulai pada awal September 2026.
Arah tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Akademik Umsida Tahun Akademik 2026–2027 yang digelar pada Kamis, (10/9/2026) di Aula Mas Mansyur, Kampus 1 Umsida.
Lihat juga: Dari Communication hingga Hospitality, Pelatihan Umsida Perkuat Kompetensi Pimpinan
Umsida Perkuat Core Values

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Syafiq A Mughni MA PhD, mengajak sivitas akademika Umsida untuk kembali memahami dan menghidupkan core values dalam nama “Umsida”, yang memiliki arti Uswah, Mandiri, Sinergi, Integritas, Dinamis, dan Amanah.
Menurutnya, nilai dasar tersebut tidak cukup hanya dipahami.
“Nilai-nilai dasar ini tentu menjadi landasan dan sekaligus inspirasi bagi budaya kita,” ujar Prof Syafiq.
Ia menjelaskan bahwa Uswah berarti menjadi contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Mandiri mendorong kampus untuk bergerak berdasarkan keyakinan dan filosofi yang dimiliki, sementara Sinergi menekankan pentingnya membangun kekuatan bersama dan mengelola perbedaan menjadi sesuatu yang konstruktif.
Sementara itu, Integritas menjadi prinsip untuk menjaga kesesuaian antara apa yang dikatakan dan dilakukan.
Nilai Dinamis mendorong sivitas akademika untuk terus bergerak dan berkembang, sedangkan Amanah mengingatkan bahwa setiap tugas dan jabatan merupakan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
Masuki Milestone National Competitiveness
Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi, menyampaikan bahwa sejak awal September 2026 hingga akhir Agustus 2030, Umsida memasuki milestone ketiga, yakni National Competitiveness.
Tahapan ini melanjutkan capaian National Recognition pada periode sebelumnya yakni national recognition.
Ia menekankan empat kata kunci yang menjadi arah pengembangan Umsida, yakni unggul, inovatif, Islami, dan berdaya saing.
“Pada milestone ketiga ini menegaskan bahwa Umsida menjadi perguruan tinggi unggul, inovatif, Islami, dan berdaya saing di tingkat nasional,” jelasnya.
Penguatan tersebut mencakup peningkatan mutu akademik, tata kelola, sumber daya manusia, penelitian, pengabdian, serta budaya akademik.
Menurutnya, orientasi Umsida juga mulai bergeser.
BACA JUGA
Jika pada milestone sebelumnya fokus utama adalah memperoleh pengakuan di tingkat nasional, kini tantangannya adalah bagaimana Umsida mampu memenangkan persaingan dan menunjukkan keunggulan di tingkat nasional.
“Pertanyaannya berubah. Sekarang, seberapa kuat Umsida bersaing di level nasional dan memiliki keunggulan di level nasional,” tuturnya.
Karena itu, imbuhnya, peningkatan akreditasi tidak cukup hanya berhenti pada perolehan status.
Akreditasi harus menjadi dasar atas keunggulan proses pendidikan dan tata kelola yang dijalankan oleh program studi maupun institusi.
Dorong Riset, Digitalisasi, dan Dampak Lebih Luas

Memasuki milestone ketiga, kata Dr Hidayatulloh, Umsida diarahkan untuk memperkuat produktivitas, reputasi, pembelajaran, riset, inovasi, dan kontribusi kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kegiatan penelitian perlu menghasilkan keunggulan, inovasi, hilirisasi hingga komersialisasi.
Hal serupa berlaku pada pengabdian kepada masyarakat.
“Berbagai kegiatan Abdimas tidak boleh hanya sekadar Abdimas, harus berdampak dan terukur,” tegas Dr Hidayatulloh.
Di bidang digitalisasi, Umsida juga akan memperkuat transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan.
“InsyaAllah dalam waktu dekat akan sosialisasi bagaimana kita memanfaatkan AI yang sedang DSTI untuk mensupport dosen dalam memudahkan pekerjaan dan tugas,” tuturnya.
Selain itu, kerja sama kelembagaan akan diarahkan menjadi lebih strategis dan produktif.
Di milestone ketiga ini juga, Umsida menargetkan lulusan yang semakin kompetitif, memiliki daya saing, serta relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Lihat juga: Lebih Produktif, Umsida Gelar Pelatihan untuk Menghadapi Perubahan Organisasi
Dr Hidayatulloh menegaskan bahwa dampak Umsida ke depannya harus menunjukkan keunggulan, daya saing, dan dampaknya.
“Tidak hanya di kawasan Sidoarjo, Pasuruan, dan sekitarnya. Tapi kita berharap, Indonesia ini masih luas. Kita ingin resonansi yang segar menjadi semakin luas lagi,” tutupnya.(Dhona)
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: UMSIDA • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca