Semarang | Memasuki dunia perguruan tinggi menjadi awal perjalanan baru bagi Haneev Ahmad Al Hikam. Sebagai mahasiswa penyandang disabilitas, pemuda asal Semarang tersebut memilih terus melangkah dan mengejar cita-citanya di bidang teknologi.
Kini, Haneev menjadi salah satu mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) Tahun Akademik 2026/2027. Ia memilih Program Studi S1 Informatika sebagai jalan untuk memperdalam ketertarikannya pada dunia komputer sekaligus mendekatkan diri pada cita-citanya menjadi seorang software engineer.
Bagi Haneev, menjadi mahasiswa bukan sekadar melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA. Kampus menjadi ruang baru untuk belajar mandiri, mengembangkan kemampuan, sekaligus menunjukkan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk menentukan dan memperjuangkan masa depannya.

“Saya ambil jurusan S1 Informatika karena tertarik di situ,” ungkap Haneev saat mengikuti rangkaian kegiatan mahasiswa baru UNIMUS, Rabu (9/9/2026).
Ketertarikannya terhadap komputer membuat lulusan SMAN 15 Semarang tersebut telah memiliki gambaran mengenai bidang yang ingin ditekuninya. Ia berharap kelak dapat menjadi software engineer ataupun mengembangkan karier pada bidang lain yang berkaitan dengan teknologi komputer.
Sebelum akhirnya menjadi bagian dari UNIMUS, Haneev sempat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP dan UTBK. Hasil yang belum sesuai harapan tidak menghentikan langkahnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Ia kemudian memilih UNIMUS yang memiliki program studi sesuai dengan minatnya. Lokasi kampus yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya di kawasan Sendangmulyo, Tembalang, Semarang, juga menjadi salah satu pertimbangan untuk menunjang mobilitasnya sehari-hari.
“Jadi alternatif kuliah di sini, yang terdekat dan tidak menyusahkan,” tuturnya.
Selama mengikuti kegiatan awal mahasiswa baru, Haneev mengaku dapat mengikuti aktivitas kampus dengan baik. Ia berharap fasilitas dan aksesibilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas terus dikembangkan.
“Semoga banyak fasilitas yang mendukung untuk orang disabilitas seperti saya,” harapnya.
Haneev bukan satu-satunya mahasiswa baru penyandang disabilitas yang menjadi bagian dari keluarga besar UNIMUS pada Tahun Akademik 2026/2027. Terdapat lima mahasiswa baru penyandang disabilitas yang memerlukan pendampingan selama menjalani aktivitas di lingkungan kampus.
BACA JUGA
Sejak awal mengikuti rangkaian kegiatan mahasiswa baru, kelima mahasiswa tersebut telah memperoleh pendampingan dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) UNIMUS. Pendampingan dilakukan untuk membantu memastikan mahasiswa dapat mengikuti kegiatan kampus sesuai kebutuhan masing-masing.

Keberadaan ULD menjadi bagian penting dalam upaya UNIMUS membangun lingkungan pendidikan tinggi yang semakin inklusif. Pendampingan tidak hanya dibutuhkan pada masa pengenalan kampus, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan agar mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh akses dan kesempatan yang setara dalam proses pendidikan.
Bagi UNIMUS, inklusivitas bukan sekadar menerima mahasiswa dengan latar belakang dan kondisi yang beragam, tetapi juga memastikan adanya dukungan nyata agar mereka dapat belajar, berinteraksi, mengembangkan potensi, dan berpartisipasi dalam kehidupan kampus secara optimal.
Kehadiran mahasiswa penyandang disabilitas menjadi bagian dari keberagaman mahasiswa baru UNIMUS Tahun Akademik 2026/2027. Mahasiswa datang dari berbagai daerah, negara, budaya, pengalaman, serta kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Hingga 9 September 2026, jumlah mahasiswa baru UNIMUS telah mencapai 4.799 orang. Angka tersebut telah melampaui target penerimaan dan masih berpotensi bertambah seiring proses penerimaan mahasiswa baru yang masih berlangsung.
Pertumbuhan jumlah mahasiswa tersebut sekaligus membawa tanggung jawab bagi universitas untuk memastikan setiap mahasiswa memperoleh lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, ramah, dan mendukung pengembangan potensinya.
Hal tersebut sejalan dengan pesan Rektor UNIMUS Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., bahwa UNIMUS ingin menjadi kampus yang nyaman, menyenangkan, memajukan, memuliakan, dan menggembirakan bagi semua, tanpa bullying, diskriminasi, maupun kekerasan.
Bagi Haneev, perjalanan sebagai mahasiswa Informatika baru saja dimulai. Di depan masih terbentang proses panjang untuk belajar, meningkatkan kemampuan, membangun kemandirian, dan mempersiapkan kompetensi untuk memasuki dunia teknologi.
Kisah Haneev dan mahasiswa penyandang disabilitas lainnya sekaligus menegaskan bahwa pendidikan tinggi perlu menghadirkan ruang yang dapat diakses oleh semua. Perbedaan kondisi bukan menjadi batas untuk mendapatkan pendidikan, mengembangkan potensi, maupun meraih cita-cita.
Di UNIMUS, setiap mahasiswa boleh datang dengan perjalanan yang berbeda. Namun, semuanya memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan menatap masa depan.
![]()
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: UNIMUS • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca