Semarang | Menjadi muallaf bukan sekadar mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah ikrar keislaman, perjalanan baru dimulai dengan berbagai tantangan, mulai dari penguatan akidah, kondisi psikologis, ekonomi, pendidikan, hingga hubungan dengan keluarga. Karena itu, pembinaan dan pendampingan berkelanjutan sangat dibutuhkan.

Hal tersebut disampaikan Pembina dan Pendamping Muallaf Center Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah, Hj. Maria Anna Muryani, SH., MH., dalam Pengajian Kamis Pagi Universitas Muhammadiyah Semarang (Kamis/17/9/2026) di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah. Menurutnya, pembinaan merupakan ikhtiar agar muallaf memperoleh pemahaman Islam yang baik dan benar sekaligus mampu menghadapi persoalan kehidupan serta menjadi pribadi yang mandiri.

“Ketika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi muslim, bukan berarti prosesnya berhenti sampai di situ. Ada tindak lanjut setelah berikrar, termasuk pembinaan dan pemberdayaan dalam berbagai aspek kehidupan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar muallaf masuk Islam karena keyakinan. Namun, setelahnya mereka tidak jarang menghadapi tekanan psikologis, persoalan ekonomi, keterbatasan pendidikan, hingga berkurangnya dukungan keluarga. Kondisi tersebut membutuhkan pendampingan yang tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga sosial, psikologis, dan ekonomi.

Gambaran persoalan itu terlihat dalam pertemuan Muhammadiyah pada 25 Agustus 2026 di Rumah MCA (Muallaf Center ‘Aisyiyah). Kegiatan yang diikuti sekitar 60 peserta dari Muallaf Center ‘Aisyiyah, komunitas Aku Cinta Iqro’ dan masyarakat tersebut dibagi menjadi tujuh kelompok diskusi. Persoalan ekonomi menjadi salah satu masalah utama yang dibahas, sekaligus dicari solusi dan bentuk dukungan bersama.

Maria Anna mengatakan, pembinaan dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Selain memperkuat wawasan keagamaan, muallaf perlu didorong memiliki kemandirian ekonomi, membangun jiwa usaha, serta aktif dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

Strategi pembinaan dapat menggunakan pendekatan informatif melalui ceramah dengan topik yang dekat dengan kehidupan muallaf, serta pendekatan partisipatif melalui diskusi dan belajar bersama. Pendamping juga perlu berbaur dan membangun komunikasi yang dekat, termasuk menggunakan pendekatan konseling ketika menghadapi persoalan psikologis maupun pribadi.

Pendamping muallaf, lanjutnya, bukan sekadar pengajar agama. Mereka harus mampu membantu persoalan spiritual, sosial, dan material. Seorang pendamping idealnya memiliki pengetahuan agama yang memadai, berakhlak mulia, ikhlas, berwawasan luas, mampu berkomunikasi dan memotivasi, serta memahami dinamika masyarakat.

Pendampingan dilakukan secara intensif untuk membantu muallaf menemukan jati diri barunya, memperkuat keislaman, membangun kemandirian ekonomi, beradaptasi dengan komunitas baru, hingga menghadapi persoalan internal maupun hubungan dengan keluarga.

Pembinaan muallaf membutuhkan proses panjang. Karena itu, diperlukan organisasi pembina yang kuat, sumber daya manusia yang menguasai agama sekaligus memiliki pemahaman psikologi, sosial dan ekonomi, serta relawan yang bersedia terlibat.

Fasilitas yang nyaman juga diperlukan sebagai ruang belajar, berbagi pengalaman dan mempererat silaturahmi. Di sisi lain, materi pembinaan perlu disusun secara sistematis melalui kurikulum maupun modul agar proses pendampingan lebih terarah dan berkelanjutan.

“Pendampingan muallaf adalah perbuatan untuk membantu berbagai kesulitan yang mereka hadapi dalam kehidupan, dengan tujuan agar mereka dapat mencapai kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat,” tutur Maria Anna.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan, muallaf diharapkan tidak hanya semakin kuat dalam pemahaman dan pengamalan Islam, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang berdaya, mandiri, tangguh, dan aktif di tengah masyarakat.

Loading

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: UNIMUSKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...