Produk teh herbal dari kuloit jagung yang dipadukan dengan daun mint dan bunga melati karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diberi nama Zeazen Herbal Tea. ANTARA/HO-UMM

Malang (ANTARA) – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan teh antistres dengan bahan baku alami rambut jagung manis yang dipadukan dengan daun mint dan bunga melati.

Inovasi produk teh antistres yang memanfaatkan limbah rambut jagung manis, daun mint dan bunga melati tersebut diberi nama Zeazen Herbal Tea.

“Ide pembuatan teh antistres ini bermula dari kepedulian kami terhadap banyaknya limbah pertanian yang terbuang sia-sia, salah satunya sisa panen jagung di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar,” kata salah satu anggota tim pencipta Zeazen Herbal Tea, Zakiy Zamzi dalam keterangannya di Malang, Jawa Timur, Jumat.

Zakiy mengatakan bahwa teh berbahan alam itu dapat merelaksasi konsumen. “Semakin tahun, seorang pelajar dan pekerja itu kan pasti terbebani, pasti mereka membutuhkan relaksasi,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan teh artisan ini tidak hanya mengandalkan rambut jagung, melainkan dicampur dengan tanaman herbal lain yang memiliki efek penenang.

Ia memaparkan bahwa campuran daun mint dan bunga melati dipilih karena memiliki senyawa fungsional spesifik yang baik untuk meredakan stres pada kesehatan mental dan fisik.

“Rambut jagung memiliki flavonoid, seperti maysin dan luteolin untuk antioksidan. Daun mint mengandung rosmarinic acid dan mentol yang memberi sensasi segar, sedangkan bunga melati kaya senyawa volatil seperti linalool yang mendukung pengalaman sensoris lebih rileks,” ujarnya.

Dalam proses pengembangan yang dimulai sejak bulan April lalu, tim yang berada di bawah bimbingan dosen Teknologi Pangan UMM, Ayu Diawi ini juga harus memastikan standar dan kualitas bahan baku.

Ia menjelaskan bahwa bahan utama yang digunakan secara spesifik adalah jenis jagung manis yang diolah dengan cara dikeringkan lalu dihaluskan secara presisi.

“Kami mendapatkan rambut jagung manis dari Blitar dalam kondisi kering, lalu diblender halus tanpa menghilangkan serat kandungannya, baru digabungkan sesuai persentase formula ke dalam kantong teh,” tambahnya.

Pemanfaatan limbah ini juga memberi angin segar bagi para petani di daerah pemasok yang selama ini cenderung mengabaikan sisa panen, khususnya rambut jagung.

Ia menyebutkan bahwa sebelum adanya inisiatif inovasi ini, rambut jagung manis di Desa Sragi tidak memiliki nilai ekonomis dan hanya berakhir menjadi sampah lahan. Rata-rata limbah rambut jagung tersebut dibuang dan dibakar, sehingga tidak termanfaatkan.

Saat ini, produk teh celup artisan tersebut sudah memasuki tahap komersialisasi awal dengan menawarkan varian kemasan premium yang dibanderol dari harga Rp75.000 hingga Rp100.000.

Selain memberikan efek rileks dan menstabilkan gula darah, konsumen wanita juga melaporkan adanya penurunan rasa nyeri saat siklus menstruasi setelah mengonsumsi teh ini.

Program yang mendapat pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini, ke depannya diharapkan tidak sekadar menjadi produk wirausaha kampus yang lolos pendanaan, namun mampu menjadi solusi berkelanjutan yang meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dalam jangka panjang.

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: UMM Kunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...