Semarang | Kesiapan bidan menghadapi kegawatdaruratan maternal dan neonatal menjadi perhatian dalam 3rd International Conference on Practice and Innovation in Midwifery (ICPIM). Mengusung tema “Future-Ready Midwives for Maternal and Newborn Emergencies”, konferensi internasional ini menegaskan pentingnya penguatan kompetensi bidan agar mampu melakukan deteksi dini, penanganan awal, hingga rujukan secara tepat dan cepat.

Memasuki penyelenggaraan yang ketiga, ICPIM tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan melalui seminar internasional, tetapi juga menjadi wadah bagi dosen, mahasiswa, peneliti, dan praktisi kebidanan untuk mempresentasikan hasil penelitian dan inovasi di bidang kebidanan.

Sebanyak 250 peserta mengikuti kegiatan yang menghadirkan tiga pembicara dari unsur organisasi profesi, akademisi internasional, dan akademisi kebidanan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS).

Pembicara pertama, Ruth Ann Colby Martin, CPM, LM, MSM, dari Midwife Colladge of Utta Amerika, membawakan topik “Midwives on the Frontline: Maternal and Newborn Emergency Preparedness and Response in Community and Low-Resource Settings”. Materi tersebut menyoroti kesiapsiagaan bidan dalam menghadapi kegawatdaruratan maternal dan neonatal, khususnya di masyarakat dan wilayah dengan keterbatasan sumber daya.

Selanjutnya, Ratna Chairani, S.St., M.Kes dari Pimpinan Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyampaikan materi “Strengthening Midwifery Competencies in Maternal and Newborn Emergency Care”. Sementara pembicara ke 3 Dr. Umi Khasanah dosen kebidanan Unimus  membahas “Midwives on the Frontline: Early Detection, Stabilization, and Timely Referral”.

Ketua Program Studi Kebidanan UNIMUS, Dr. Bdn. Fitriani Nur Damayanti, S.S.T., S.H., M.H.Kes., M.Keb. mengatakan ICPIM dirancang tidak sekadar sebagai seminar, tetapi juga memberikan ruang kepada mahasiswa dan dosen untuk menunjukkan hasil penelitian yang telah dilakukan.

“Seminar internasional ini bukan hanya seminar, tetapi juga ada oral presentation. Khususnya mahasiswa kebidanan dapat memberikan hasil penelitiannya,” ujarnya.

Menurutnya, tema kegawatdaruratan maternal dan neonatal menjadi penting karena bidan dituntut memiliki kesiapan menghadapi berbagai kondisi yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi. Beberapa kasus yang perlu mendapat perhatian antara lain perdarahan, asfiksia, preeklamsia, dan eklamsia.

Kesiapan tersebut, lanjutnya, tidak cukup dibangun ketika kegawatdaruratan sudah terjadi. Bidan perlu memiliki kemampuan melakukan skrining dan deteksi dini, sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif sejak awal kehamilan.

“Harapannya, dari seminar ini kita bisa melihat masa depan kebidanan. Ke depan harus sudah siap bagaimana menghadapi emergency maternal dan neonatal, termasuk melalui skrining dan persiapan lebih awal secara promotif dan preventif,” jelasnya.

Selain sesi utama, ICPIM juga memberikan ruang bagi peneliti untuk mempresentasikan hasil penelitian. Sebanyak 120 artikel dipresentasikan dalam forum tersebut. Pada sesi kedua, presentasi oral digelar secara daring melalui 13 ruang presentasi, sehingga memperluas akses bagi peserta dan peneliti untuk mengikuti serta berbagi hasil riset.

Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa penguatan kebidanan tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan. Keterlibatan praktisi kebidanan menjadi bagian penting untuk mempertemukan perkembangan akademik dengan kebutuhan pelayanan di lapangan.

Wakil Rektor IV UNIMUS, Muhammad Yusuf, S.STP., M.Si., Ph.D., saat membuka kegiatan mengatakan profesi bidan memiliki dimensi pengabdian yang kuat.

Menurutnya, menjadi bidan bukan sekadar menjalankan sebuah profesi, tetapi juga merupakan panggilan hati yang menuntut ketulusan, empati, dan pengabdian dalam mendampingi perempuan serta menjaga kesehatan ibu dan anak.

“Menjadi seorang bidan bukan hanya merupakan profesi, melainkan sebuah panggilan hati atau panggilan jiwa yang menuntut ketulusan, empati, dan pengabdian mendalam bagi kehidupan,” tuturnya.

Ia menilai bidan memiliki peran penting dalam mendampingi perempuan pada masa kehamilan hingga persalinan, memberikan rasa aman dan harapan kepada ibu serta keluarga, sekaligus menjalankan pengabdian kemanusiaan melalui upaya menjaga kesehatan ibu dan anak.

Peran tersebut juga semakin strategis dalam upaya pencegahan stunting di masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas bidan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam forum ilmiah dapat diterapkan dalam praktik pelayanan.

Penyelenggaraan ICPIM yang telah memasuki tahun ketiga menjadi bagian dari upaya membangun keberlanjutan forum akademik kebidanan. Tidak berhenti pada pelaksanaan seminar, konferensi ini diarahkan untuk mempertemukan penelitian, inovasi, pendidikan, dan praktik kebidanan secara berkesinambungan.

Dengan menghadirkan mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi, ICPIM diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang terus berkembang sekaligus mendorong lahirnya penelitian dan inovasi yang relevan dengan persoalan kesehatan ibu dan bayi.

Keberlanjutan forum semacam ini menjadi penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pengetahuan, keterampilan, dan inovasi yang memberi manfaat bagi pelayanan kebidanan dan masyarakat.

Melalui ICPIM, Kebidanan Unimus komitmennya untuk terus memperkuat pendidikan dan praktik kebidanan yang adaptif terhadap tantangan masa depan, terutama dalam membangun kesiapan bidan menghadapi kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Loading

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: UNIMUSKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...